Syech Albar, Senar Gambus Sebelum Rock

Terkini 16 Aug 2026 14:30 • 9 min read • 95 views • By Redaksi: PerwirasatuNews.my.id

Share berita ini

Syech Albar, Senar Gambus Sebelum Rock
PerwirasatuNews.my.id, 16 Agustus 2026.Sebelum suara Achmad Albar mengguncang panggung rock Indonesia, nama Albar telah lebih dahulu terdengar melalui...

PerwirasatuNews.my.id, 16 Agustus 2026.

Sebelum suara Achmad Albar mengguncang panggung rock Indonesia, nama Albar telah lebih dahulu terdengar melalui gelombang radio kolonial. Bukan gitar listrik yang mengantarkan nama itu, melainkan gambus, piringan gramofon, dan lagu bernuansa Arab. Sosok di baliknya adalah Syech Albar, musisi Surabaya yang telah menorehkan jejak penting jauh sebelum industri musik modern berkembang seperti sekarang.


Pada suatu masa ketika radio masih menjadi teknologi baru dan piringan gramofon merupakan benda yang belum lazim dimiliki banyak orang, seorang musisi Surabaya telah menemukan jalan untuk membuat musiknya menembus batas ruang. Ia memainkan gambus, alat musik petik yang berakar dari tradisi Timur Tengah, tetapi bunyinya kemudian menjangkau pendengar yang jauh lebih luas daripada lingkungan komunitas asalnya.

Musisi itu adalah Syech bin Abdullah Albar. Lahir di Surabaya pada 1908, ia kelak dikenal sebagai salah satu pemain dan pemimpin orkes gambus paling masyhur pada dekade 1930-an. Namanya mungkin tidak lagi sepopuler putranya, Achmad Albar, tetapi dalam sejarah musik populer Indonesia, Syech Albar menyimpan cerita yang justru sangat penting: bagaimana sebuah musik yang membawa jejak budaya Timur Tengah menemukan tempat dalam ruang hiburan modern Nusantara.

Catatan sejarah yang dihimpun Historia menunjukkan bahwa Syech Albar mempopulerkan gambus melalui dua medium yang pada zamannya memiliki kekuatan luar biasa, radio dan piringan gramofon. Ia tidak berhenti pada pertunjukan di lingkungan komunitas. Ia membawa musiknya ke ruang publik yang lebih luas, sehingga suara gambus dapat didengar oleh orang yang bahkan tidak hadir di tempat pertunjukan.

Keputusan tersebut menunjukkan sesuatu yang sering luput ketika sejarah musik hanya dibaca berdasarkan genre. Seorang musisi tidak cukup hanya memiliki kemampuan memainkan alat musik. Ia juga harus mampu membaca perubahan zaman. Syech Albar tampaknya memahami bahwa masa depan musik bukan hanya berada di panggung, tetapi juga di udara yang dipancarkan radio dan di piringan yang dapat diputar berulang kali.

Pada 1930-an, radio mulai memainkan peranan penting dalam kehidupan hiburan masyarakat Hindia Belanda. Di tengah perubahan itu, orkes gambus pimpinan Syech Albar mengudara melalui NIROM Surabaya pada 1935. Beberapa tahun kemudian, majalah Soeara NIROM Soerabaia bahkan memberikan pujian terhadap kualitas orkes tersebut dan menyebutnya sebagai orkes yang layak dibanggakan.

Bayangkan posisi seorang musisi pribumi keturunan Hadrami pada masa kolonial ketika ruang budaya modern sedang berkembang di bawah struktur industri yang bukan sepenuhnya milik masyarakat lokal. Syech Albar tidak sekadar masuk ke dalam ruang tersebut, tetapi mampu memperoleh pengakuan. Gambus yang dibawanya bukan lagi hanya suara komunitas, melainkan telah menjadi bagian dari lanskap hiburan yang dapat didengar melalui teknologi modern.

Di sinilah arti penting Syech Albar mulai terlihat.

Ia bukan sekadar pemain gambus. Ia adalah seorang mediator kebudayaan. Di satu sisi terdapat akar tradisi musik Arab yang dibawa dan dikembangkan masyarakat Hadramaut di Nusantara. Di sisi lain terdapat radio, perusahaan rekaman, selera pasar, dan perkembangan musik populer. Syech Albar berdiri di antara dua dunia tersebut dan membuat keduanya bertemu melalui musik.

Jejak rekamannya memperkuat kedudukan itu. Historia mencatat bahwa Syech Albar telah memperoleh kontrak dengan perusahaan rekaman His Master's Voice atau HMV sejak 1931. Salah satu rekaman yang kemudian dikenal adalah Zahrotoel Hoesoen, yang dirilis pada 1937 dengan keterangan sebagai nyanyian Arab modern.

Fakta itu penting karena memperlihatkan bahwa perjalanan Syech Albar bukan sekadar kisah tentang seniman yang terkenal di daerahnya. Musiknya telah masuk ke dalam industri rekaman. Pada masa ketika teknologi piringan gramofon masih menjadi simbol modernitas, suara Syech Albar telah diabadikan dalam bentuk rekaman yang dapat diedarkan dan diperdengarkan kembali.

Keterlibatannya dengan Canary Records semakin memperkuat gambaran tersebut. Arsip National Archives of Singapore mencatat rekaman Sech Albar berjudul Albareg yang diterbitkan pada label Canary dalam format piringan 78 rpm dan dirilis pada 1938. Sebuah benda kecil dari masa lalu itu kini menjadi bukti bahwa suara Syech Albar pernah menempuh perjalanan melampaui panggung dan kota tempat ia hidup.

Yang lebih menarik, repertoar Syech Albar tidak harus dibayangkan sebagai musik yang sepenuhnya tertutup dalam satu identitas budaya. Kajian Andrew Weintraub menunjukkan adanya persentuhan repertoar gambus dengan berbagai warna musik, termasuk Melayu dan Hindustan. Pada 1939, misalnya, Canary mencatat rekaman orkes Syech Albar yang bernuansa Hindustan berjudul Janasib I dan II.

Di sinilah kita menemukan sisi Syech Albar yang jauh lebih menarik daripada sekadar label pelopor gambus. Ia hidup dalam ruang kebudayaan yang cair. Musik Arab, Melayu, Hindustan, dan berbagai pengaruh lain dapat saling bersentuhan. Indonesia tidak pernah tumbuh dari satu sumber kebudayaan yang berdiri sendiri. Musiknya lahir dari perjalanan panjang perjumpaan, penyerapan, penyesuaian, dan penciptaan ulang.

Karena itu, kurang tepat jika gambus ditempatkan sebagai musik asing yang sekadar datang dari luar kemudian hidup di Indonesia. Dalam perjalanan sejarahnya, gambus mengalami proses Indonesiaisasi. Masyarakat dari berbagai latar ikut mendengar, memainkan, mengembangkan, dan memasukkannya ke dalam kehidupan sosial. Dari pernikahan, perayaan komunitas, radio, hingga industri rekaman, gambus bergerak dari satu ruang ke ruang lainnya.

Syech Albar berada pada salah satu fase penting dari perjalanan tersebut.

Ia menjadi bagian dari generasi yang memperlihatkan bahwa identitas musik dapat tetap berakar sekaligus terbuka. Tradisi tidak harus dibekukan agar tetap dianggap autentik. Sebaliknya, tradisi justru dapat bertahan ketika mampu berdialog dengan perubahan zaman.

Pelajaran tersebut terasa semakin relevan hari ini.

Di tengah derasnya arus musik global, banyak kesenian tradisional menghadapi persoalan yang sama: bagaimana tetap memiliki akar tanpa kehilangan pendengar. Sebagian orang menjawabnya dengan mempertahankan bentuk lama secara ketat. Sebagian lainnya memilih melakukan perubahan besar. Syech Albar memberikan contoh historis yang lebih menarik: ia membawa musik yang memiliki akar budaya kuat ke dalam medium modern tanpa harus kehilangan karakter dasarnya.

Perjalanan gambus kemudian terus berlanjut setelah masa Syech Albar. Orkes gambus bermunculan di berbagai kota. Musik tersebut berinteraksi dengan musik Melayu dan berbagai pengaruh lainnya. Dalam perjalanan panjang itulah kemudian terbentuk jaringan musikal yang ikut memberi warna terhadap perkembangan musik populer Indonesia dan, pada akhirnya, perjalanan menuju dangdut.

Namun di sini perlu kehati-hatian. Syech Albar bukan pencipta dangdut. Sejarah dangdut jauh lebih kompleks daripada satu tokoh atau satu genre. Andrew Weintraub justru menempatkan Syech Albar sebagai salah satu pemrakarsa dalam mata rantai panjang yang kemudian berkontribusi terhadap lahirnya musik dangdut Indonesia.

Pemahaman seperti itu jauh lebih adil terhadap sejarah. Musik tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari pertemuan banyak tangan, suara, alat musik, selera, teknologi, dan keadaan sosial. Sebelum dangdut memiliki nama besar seperti Rhoma Irama, Ellya Khadam, dan para pelaku generasi berikutnya, sudah ada berbagai bentuk musik yang menyediakan unsur, pengalaman, dan ruang bagi perkembangannya.

Syech Albar merupakan salah satu simpul dalam jaringan sejarah tersebut.

Menariknya, sejarah kemudian menghadirkan kejutan dari keluarga yang sama. Putra Syech Albar, Achmad Albar, lahir di Surabaya pada 16 Juli 1946. Sang ayah tidak hidup cukup lama untuk menyaksikan perjalanan panjang anaknya, sebab Syech Albar meninggal dunia pada 30 Oktober 1947, ketika Achmad masih berusia sekitar satu tahun.

Kelak, anak itu justru memilih jalan musikal yang sangat berbeda.

Jika sang ayah dikenal melalui gambus yang berakar pada tradisi Timur Tengah, Achmad Albar kemudian menjadi salah satu suara paling kuat dalam perkembangan rock Indonesia. Bersama God Bless, ia tampil sebagai bagian dari generasi yang membawa musik rock ke panggung besar Indonesia pada dekade 1970-an.

Kontras tersebut terasa seperti dua halaman berbeda dalam sebuah buku yang sama. Pada halaman pertama terdapat senar gambus, lagu Arab, radio NIROM, dan piringan gramofon. Pada halaman berikutnya muncul gitar listrik, panggung rock, suara keras, dan energi generasi muda.

Tetapi keduanya sesungguhnya memiliki satu kesamaan penting: keberanian memasuki ruang baru.

Syech Albar membawa gambus ke radio dan industri rekaman. Achmad Albar membawa rock ke panggung besar Indonesia. Ayah dan anak itu memang berada dalam genre yang berbeda, tetapi keduanya memperlihatkan bahwa musik berkembang ketika seorang seniman berani keluar dari ruang yang sudah dikenalnya.

Karena itu, hubungan Syech Albar dengan Achmad Albar sebaiknya tidak dibaca hanya sebagai kisah tentang seorang ayah yang melahirkan anak terkenal. Cara pandang tersebut justru membuat sejarah menjadi timpang. Achmad Albar memang kemudian menjadi legenda rock, tetapi sang ayah telah lebih dahulu memiliki reputasi sendiri ketika dunia musik Indonesia masih berada dalam bentuk yang jauh berbeda.

Syech Albar memiliki panggungnya sendiri.

Ia memiliki radio yang menjadi ruang ekspresi. Ia memiliki piringan gramofon yang mengabadikan suaranya. Ia memiliki orkes yang mendapat perhatian publik. Ia bahkan memiliki jejak rekaman yang kini dapat ditemukan dalam arsip internasional.

Itulah sebabnya nama Syech Albar layak ditempatkan dalam sejarah musik Indonesia bukan sebagai catatan kaki dari biografi Achmad Albar, melainkan sebagai tokoh yang berdiri dengan pencapaiannya sendiri.

Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan hidupnya. Ia meninggal relatif muda, hanya sekitar 39 tahun. Ia tidak sempat menyaksikan anaknya tumbuh menjadi salah satu ikon musik Indonesia. Ia juga tidak menyaksikan bagaimana musik populer Indonesia berubah secara drastis setelah kematiannya.

Namun karya memiliki cara sendiri untuk bertahan.

Suara yang dahulu keluar dari radio kolonial dan piringan gramofon tidak benar-benar hilang. Ia berpindah dari rekaman ke arsip, dari arsip ke penelitian, lalu dari penelitian ke ingatan sejarah. Setiap kali nama Syech Albar kembali dibicarakan, senar gambusnya seolah memperoleh kesempatan untuk berbunyi sekali lagi.

Di tengah zaman ketika popularitas sering diukur dari jumlah penonton, pengikut, dan seberapa sering nama seseorang muncul di media sosial, kisah Syech Albar menawarkan ukuran yang berbeda tentang arti penting seorang seniman.

Tidak semua pelopor harus menjadi nama yang paling terkenal. Tidak semua orang yang membuka jalan akan selalu diingat oleh generasi berikutnya. Ada orang-orang yang jasanya justru terlihat ketika kita menoleh ke belakang dan menyadari bahwa jalan yang sekarang terasa lebar ternyata pernah dimulai dari jejak kaki yang sangat kecil.

Syech Albar adalah salah satunya.

Ia memperlihatkan bahwa tradisi tidak harus menjadi museum. Ia dapat menjadi musik yang hidup, masuk radio, direkam perusahaan besar, menyeberangi batas komunitas, dan memengaruhi perjalanan kebudayaan populer.

Ia juga mengajarkan bahwa perjumpaan budaya bukan ancaman bagi identitas. Justru dari perjumpaan itulah lahir kreativitas. Gambus yang berakar dari Hadramaut menemukan rumah di Indonesia, bersentuhan dengan Melayu dan berbagai pengaruh musik lainnya, lalu menjadi bagian dari sejarah musik populer Nusantara.

Kisah Syech Albar bukan hanya kisah tentang seorang musisi yang pernah terkenal pada zamannya. Ia adalah kisah tentang bagaimana Indonesia membentuk musiknya sendiri: melalui perjumpaan, keterbukaan, keberanian bereksperimen, dan kemampuan generasi berikutnya untuk meneruskan sekaligus mengubah warisan sebelumnya.

Maka, ketika nama Achmad Albar disebut sebagai salah satu legenda rock Indonesia, ada baiknya kita sesekali menoleh lebih jauh ke belakang.

Di sana ada seorang ayah yang pernah memetik gambus ketika radio baru menemukan tempat dalam kehidupan masyarakat. Ada piringan gramofon yang menyimpan jejak suaranya. Ada arsip yang masih mencatat namanya. Dan ada sebuah warisan yang menunjukkan bahwa jauh sebelum gitar listrik menggelegar, senar gambus Syech Albar telah lebih dahulu membuka jalan bagi suara musik Indonesia menuju dunia yang lebih luas.


Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Ad
test1
Perwira Satu News