Pohon Sahabi, Jejak Teduh Lintas Zaman

Terkini 20 Aug 2026 05:32 • 8 min read • 103 views • By Redaksi: PerwirasatuNews.my.id

Share berita ini

Pohon Sahabi, Jejak Teduh Lintas Zaman
PerwirasatuNews.my.id, 20 Agustus 2026.Di tengah bentang gurun Yordania yang kering dan terbuka, sebuah pohon tua berdiri sendirian seperti penanda ya...

PerwirasatuNews.my.id, 20 Agustus 2026.
Di tengah bentang gurun Yordania yang kering dan terbuka, sebuah pohon tua berdiri sendirian seperti penanda yang menolak hilang dari ingatan. Di kawasan Al-Buqay'awiyya, dekat Safawi, Provinsi Mafraq, pohon itu dikenal sebagai Al-Buqayawiyya, The Blessed Tree, atau secara populer disebut Pohon Sahabi.

Bagi banyak umat Islam, pohon tersebut bukan sekadar tumbuhan tua di tengah padang pasir. Ia dipercaya berkaitan dengan perjalanan Nabi Muhammad ke arah Syam ketika beliau masih muda. Namun, di balik kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi, terdapat pertanyaan yang menarik: sejauh mana hubungan antara pohon yang berdiri hari ini dengan peristiwa yang dikisahkan dalam tradisi benar-benar dapat dibuktikan?

Pertanyaan itu tidak harus dijawab dengan sikap yang tergesa-gesa. Sebab, ada sesuatu yang dapat dipastikan terlebih dahulu: pohonnya ada, situsnya nyata, masyarakat dan pemerintah Yordania memperlakukannya sebagai bagian dari warisan religius dan sejarah, dan kisah yang mengitarinya telah menjadi bagian dari ingatan keagamaan yang hidup.

Kementerian Awqaf dan Urusan Islam Yordania menempatkan Al-Buqay'awiyya sekitar 10 kilometer dari jalan menuju Safawi. Lembaga tersebut menyebutnya sebagai pohon tua berumur panjang dan menggunakan istilah mastic tree, serta menyebutnya sebagai The Blessed Tree atau Tree of Life. Sementara Royal Jordanian mengidentifikasinya sebagai pohon pistachio dan menyebut usianya sekitar 1.400 tahun. Jordan Times pada 2019 bahkan menyebut estimasi sekitar 1.500 tahun.

Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa umur pohon sebaiknya tidak ditulis sebagai angka ilmiah yang pasti. Dalam pemberitaan dan sumber resmi, kisaran 1.400 hingga 1.500 tahun memang muncul, tetapi metode penanggalan yang menghasilkan angka tersebut tidak dijelaskan secara memadai dalam sumber-sumber populer yang tersedia. Karena itu, penyebutan yang paling aman adalah bahwa Al-Buqayawiyya merupakan pohon yang sangat tua dan telah lama menjadi bagian dari lanskap gurun Yordania.

Yang menarik, keberadaannya bukan hanya menjadi objek cerita. Situs tersebut telah memperoleh perhatian kelembagaan. Pada Oktober 2019, Raja Abdullah II meresmikan pusat pengunjung di lokasi Blessed Tree. Jordan Times melaporkan bahwa situs tersebut berada di bawah afiliasi Kementerian Awqaf dan Urusan Islam, dengan pengawasan komite kerajaan yang menangani pemeliharaan situs-situs keagamaan Islam.

Perhatian terhadap situs itu terus berlanjut. Pada Mei 2024, Jordan Times melaporkan selesainya pembangunan Masjid Blessed Tree di kawasan Safawi. Situs tersebut disebut dirawat oleh Kementerian Awqaf bersama Royal Committee for the Restoration of the Shrines of Prophets and Companions. Kehadiran masjid dan fasilitas pendukung itu memperlihatkan bahwa pohon tersebut tidak diperlakukan semata sebagai objek cerita wisata, melainkan ditempatkan dalam lanskap warisan religius yang secara resmi dijaga.

Di tengah hamparan gurun, pohon itu juga memiliki daya tarik visual yang kuat. Ia menjadi sosok hijau yang menonjol di lingkungan yang didominasi warna tanah dan bebatuan. Jordan Times menggambarkan pohon tersebut sebagai figur hijau yang berdiri sendiri dalam lingkungan gurun yang luas.

Di sinilah alam dan ingatan manusia bertemu. Pohon yang secara biologis bertahan dalam lingkungan keras sekaligus menjadi wadah bagi cerita yang diwariskan selama berabad-abad.

Tetapi kisah tentang Nabi Muhammad di bawah pohon tersebut membutuhkan kehati-hatian ketika dibawa ke ranah sejarah.

Tradisi yang paling populer mengaitkan pohon itu dengan perjalanan Nabi Muhammad ke Syam bersama pamannya, Abu Thalib, ketika beliau masih muda. Dalam versi yang berkembang luas, rombongan berhenti di dekat sebuah pohon dan di sanalah seorang rahib bernama Bahira dikisahkan mengenali tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad.

Royal Jordanian dan Jordan Times menggunakan versi perjalanan bersama Abu Thalib tersebut. Jordan Times pada 2019 bahkan menyebut bahwa Nabi Muhammad, ketika masih muda dan dalam perjalanan menuju Syam, beristirahat di bawah naungan pohon itu serta bertemu dengan rahib Bahira.

Namun, ada persoalan penting yang tidak boleh dilewatkan. Sumber resmi pemerintah Yordania sendiri tidak sepenuhnya menggunakan versi yang sama. Kementerian Awqaf Yordania menyatakan bahwa Nabi beristirahat di bawah pohon itu dalam perjalanan dagang menuju Syam bersama Sayyidah Khadijah sebelum beliau menerima wahyu.

Perbedaan ini tidak harus dianggap sebagai kelemahan yang harus disembunyikan. Justru perbedaan tersebut menunjukkan mengapa sebuah feature sejarah-keagamaan perlu membedakan antara situs fisik, tradisi masyarakat, literatur sirah, dan fakta sejarah yang dapat diverifikasi.

Kisah Bahira sendiri mempunyai sejarah panjang dalam literatur Islam. Riwayat mengenai perjumpaan Nabi dengan seorang rahib ketika perjalanan ke Syam muncul dalam sejumlah sumber hadis dan sirah. Namun, penilaian terhadap riwayat tersebut tidak sepenuhnya seragam.

Kajian yang diterbitkan Islamic Portal pada 8 Mei 2018 mencatat adanya perbedaan pandangan di antara ulama hadis dan sirah. Sebagian ulama menilai kisah tersebut tidak cukup kuat untuk ditetapkan, sementara ulama lain menerima pokok peristiwa tersebut sebagai riwayat yang memiliki dasar. Bahkan dalam sumber hadis yang dibahas, tokoh tersebut tidak selalu disebut dengan nama Bahira; penyebutan nama Bahira lebih menonjol dalam literatur sirah.

Perbedaan itu penting karena menunjukkan bahwa kisah yang populer di masyarakat tidak selalu hadir dalam satu bentuk yang seragam dalam sumber-sumber klasik. Ada bagian yang dianggap lebih kuat, ada pula detail yang dikritik atau dipersoalkan.

Karena itu, menyebut kisah Bahira sebagai tradisi sirah yang masyhur jauh lebih tepat daripada menjadikan seluruh detailnya sebagai fakta sejarah yang tidak terbantahkan.

Hal serupa berlaku pada identitas pohon yang berdiri di Safawi sekarang.

Tidak ada dasar yang cukup untuk menyatakan secara ilmiah bahwa pohon yang ada saat ini telah terbukti secara arkeologis sebagai pohon yang sama persis dengan pohon yang disebut dalam tradisi perjalanan Nabi. Klaim tersebut merupakan bagian dari tradisi dan identitas situs, bukan kesimpulan arkeologis yang telah dibuktikan melalui penelitian yang dapat memastikan kesinambungan biologis pohon tersebut selama berabad-abad.

Namun, keterbatasan pembuktian material tidak otomatis menghapus nilai budaya dan spiritualnya.

Sebuah situs warisan tidak selalu hidup hanya karena setiap detail ceritanya dapat dibuktikan dengan metode laboratorium. Ia juga hidup karena manusia mengingat, merawat, menceritakan, dan meneruskan makna yang melekat padanya.

Dalam konteks itu, sebutan Pohon Sahabi sendiri sebaiknya dipahami sebagai nama populer dan simbolik. Dalam terminologi keilmuan Islam, sahabi atau sahabat merujuk kepada manusia yang bertemu Nabi, beriman kepada beliau, dan wafat dalam keadaan Islam. Pohon tentu bukan sahabat Nabi dalam pengertian terminologis tersebut.

Tetapi bahasa kebudayaan memiliki cara sendiri dalam membangun simbol. Ketika sebuah pohon disebut Pohon Sahabi, istilah itu mencerminkan kedekatan emosional masyarakat Muslim dengan sesuatu yang diyakini pernah berhubungan dengan perjalanan Rasulullah.

Simbol boleh dihormati tanpa harus dipaksakan menjadi definisi ilmiah.

Justru di sinilah pelajaran penting dari Al-Buqayawiyya. Kita dapat mencintai sebuah warisan sambil tetap menelitinya. Kita dapat menghormati tradisi tanpa mengubah semua detail tradisi menjadi kepastian sejarah. Kita dapat menerima nilai spiritual sebuah tempat tanpa menjadikannya alasan untuk membuat klaim ilmiah yang tidak memiliki dasar memadai.

Pohon itu juga tidak perlu disebut sebagai “mukjizat ilmiah” agar kekaguman terhadapnya menjadi bermakna.

Ilmu pengetahuan dapat mempelajari spesiesnya, kondisi tanah, ketersediaan air, iklim, dan mekanisme biologis yang memungkinkan pohon tua tersebut bertahan di lingkungan yang keras. Agama, pada saat yang sama, dapat mengajak manusia membaca ketahanan ciptaan sebagai bahan perenungan tentang kebesaran Allah.

Keduanya tidak harus dipertentangkan.

Ilmu bekerja dengan data, metode, pengujian, dan kemungkinan koreksi. Tradisi bekerja melalui ingatan, transmisi, pengalaman keagamaan, dan pemaknaan. Ketika keduanya ditempatkan pada ruangnya masing-masing, penghormatan kepada warisan justru menjadi lebih matang.

Pohon Sahabi akhirnya tidak harus menjadi “bukti” untuk segala sesuatu agar layak dihormati.

Ia adalah pohon tua yang berdiri di gurun Yordania. Ia adalah bagian dari sebuah situs yang secara resmi dirawat. Ia adalah objek warisan religius dan budaya. Ia adalah simbol yang hidup dalam ingatan umat Islam. Dan ia adalah pintu masuk untuk membicarakan bagaimana manusia menjaga hubungan antara alam, sejarah, dan keyakinan.

Mungkin justru karena itulah pohon tersebut menarik.

Ia tidak berbicara. Ia tidak dapat menceritakan siapa yang pernah duduk di bawah naungannya. Ia tidak dapat memastikan kepada manusia apakah dirinya benar-benar pohon yang disebut dalam tradisi. Ia hanya berdiri, bertahan, dan menjadi saksi bisu atas perubahan zaman.

Manusia datang membawa cerita. Generasi berikutnya datang membawa pertanyaan. Para peneliti datang membawa metode. Para peziarah datang membawa kerinduan.

Dan pohon itu tetap berdiri.

Jika benar Nabi Muhammad pernah berteduh di bawahnya, maka ia menjadi pengingat tentang sebuah perjalanan yang panjang sebelum sejarah kenabian memasuki babak besarnya. Jika hubungan tersebut tidak dapat dibuktikan secara material hingga tingkat kepastian ilmiah, ia tetap mengajarkan sesuatu tentang bagaimana manusia membangun dan merawat ingatan.

Pada akhirnya, mungkin pelajaran terpenting dari Pohon Sahabi bukanlah tentang seberapa tua batangnya atau bagaimana memastikan setiap detail kisah yang mengitarinya.

Pelajaran itu adalah tentang keteduhan.

Nabi Muhammad dikenal dalam tradisi Islam bukan hanya karena tempat-tempat yang pernah beliau singgahi, tetapi terutama karena akhlak yang beliau teladankan. Maka menghormati jejak beliau tidak cukup dengan mengagumi sebuah pohon, mengabadikan fotonya, atau mengunjungi sebuah situs.

Jejak yang paling penting adalah akhlak yang hidup setelah perjalanan itu selesai.

Sebuah pohon dapat memberi teduh kepada seorang musafir untuk sementara. Tetapi manusia dapat memberi keteduhan kepada manusia lain melalui kejujuran, kasih sayang, keadilan, kesabaran, dan kepedulian.

Di situlah warisan benar-benar melampaui zaman.

Pohon dapat tetap berdiri selama berabad-abad. Namun nilai sebuah keteladanan hanya akan tetap hidup apabila manusia bersedia meneruskannya.


Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Ad
test1
Perwira Satu News