Kesetiaan Yang Bertahan Setelah Kekuasaan Pergi
PerwirasatuNews.my.id,- 28 Juli 2026
Selama hampir enam dasawarsa, Zaleha binti Sjafe'ie berjalan beriringan bersama Ibnu Sutowo dalam dua musim kehidupan yang sangat berbeda. Ia hadir ketika suaminya menjadi salah seorang tokoh paling berpengaruh di Indonesia dan tetap berada di sisinya ketika gemerlap kekuasaan perlahan meredup. Bagi Zaleha, pernikahan bukan sekadar ikatan cinta, melainkan perjanjian untuk saling menemani dalam kelimpahan maupun keterbatasan, dalam tepuk tangan maupun kesunyian. Di balik sejarah besar yang ditulis oleh seorang jenderal dan dokter tentara, terdapat sejarah lain yang tak kalah pentingnya: sejarah tentang kesetiaan yang memilih tetap tinggal ketika dunia telah berubah.
Nama Ibnu Sutowo hampir selalu dikaitkan dengan Pertamina, modernisasi industri minyak Indonesia, dan pengaruh politik yang sangat besar pada masanya. Ia adalah dokter militer yang kemudian menjadi tokoh penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Kepemimpinannya di Pertamina menjadikan perusahaan tersebut bukan sekadar perusahaan minyak, melainkan simbol kebangkitan ekonomi Indonesia pada dekade 1960-an dan awal 1970-an. Pada masanya, Pertamina membangun berbagai proyek prestisius yang menjadi kebanggaan bangsa, mulai dari rumah sakit, hotel berbintang internasional, hingga berbagai infrastruktur strategis lainnya.
Namun, sejarah yang hanya berbicara tentang jabatan dan keberhasilan kerap kali kehilangan sisi kemanusiaannya. Di balik berbagai capaian besar tersebut, terdapat seorang perempuan yang memilih untuk tidak mengambil tempat di bawah sorot lampu kekuasaan. Zaleha justru memilih menjadi penjaga keseimbangan kehidupan keluarganya. Pilihan itu mungkin tampak sederhana, tetapi sesungguhnya tidak mudah dijalani. Menjadi istri seorang perwira militer sekaligus tokoh besar nasional berarti harus siap menerima berbagai konsekuensi kehidupan yang tidak selalu nyaman dan tenang.
Ibnu Sutowo dan Zaleha menikah pada 12 Desember 1943 di Martapura, Kalimantan Selatan. Pernikahan mereka berlangsung jauh sebelum nama Ibnu Sutowo dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Ketika itu, tidak ada yang dapat memastikan bahwa dokter muda tersebut kelak akan menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di negeri ini. Justru karena itulah fondasi rumah tangga mereka dibangun bukan oleh kemegahan kekuasaan, melainkan oleh kesederhanaan dan perjuangan bersama pada masa-masa awal kehidupan.
Ada pelajaran yang menarik dari perjalanan panjang rumah tangga mereka. Tidak sedikit pasangan yang mampu bertahan dalam kesulitan, tetapi gagal menghadapi ujian kemapanan dan popularitas. Sebaliknya, ada pula yang menikmati kemewahan hidup bersama, tetapi tidak sanggup bertahan ketika masa kejayaan berlalu. Kesetiaan sejatinya tidak hanya diuji ketika seseorang berada dalam keterbatasan, melainkan juga ketika berada pada puncak pencapaian hidupnya. Kekuasaan dan pengaruh sering kali menjadi ujian yang lebih sulit dibandingkan kemiskinan itu sendiri.
Pada dekade 1960-an hingga awal 1970-an, Ibnu Sutowo berada pada puncak pengaruhnya. Pertamina tumbuh menjadi perusahaan energi yang sangat diperhitungkan di tingkat internasional. Berbagai proyek pembangunan nasional turut dilaksanakan melalui perusahaan yang dipimpinnya. Di mata banyak kalangan, Ibnu Sutowo merupakan representasi dari optimisme pembangunan Indonesia pada masa itu. Namun, semakin besar sebuah institusi bertumbuh, semakin besar pula tantangan yang dihadapinya.
Pertengahan dekade 1970-an menjadi salah satu babak penting dalam perjalanan hidup Ibnu Sutowo. Krisis keuangan yang melanda Pertamina mengubah banyak hal. Perusahaan tersebut menghadapi beban utang luar negeri dalam jumlah yang sangat besar sehingga pemerintah melakukan restrukturisasi secara menyeluruh. Berbagai keputusan penting diambil untuk menyelamatkan perekonomian nasional. Peristiwa tersebut tidak hanya mengubah arah perjalanan Pertamina, tetapi juga mengubah kehidupan pribadi orang-orang yang berada di dalamnya.
Pada titik inilah makna kesetiaan menemukan ruang pembuktiannya yang sesungguhnya. Publik mungkin lebih mudah mengingat seseorang ketika ia berada di puncak kejayaannya, tetapi kehidupan justru memperlihatkan kualitas hubungan antarmanusia ketika seseorang menghadapi perubahan nasib. Ketika kekuasaan perlahan menjauh dan sorotan publik tidak lagi seintens dahulu, Zaleha tetap menjalani perannya sebagaimana ketika kehidupan mereka berada dalam masa-masa terbaiknya.
Barangkali inilah bagian yang jarang ditulis oleh sejarah. Kesetiaan bukanlah sikap pasif yang hanya berdiri di belakang seseorang. Kesetiaan adalah keberanian untuk tetap memilih tinggal ketika keadaan berubah. Ia adalah kemampuan untuk menerima bahwa kehidupan tidak selalu bergerak ke atas, tetapi juga dapat bergerak ke bawah. Kesetiaan pula yang menjadikan sebuah rumah tangga mampu bertahan melampaui usia jabatan dan pengaruh sosial yang dimiliki oleh salah seorang di antara mereka.
Zaleha juga dikenal memiliki kepedulian yang besar terhadap berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Ia aktif dalam kegiatan Palang Merah Indonesia dan sejumlah aktivitas sosial lainnya. Namun, berbeda dengan sebagian tokoh publik pada zamannya, Zaleha lebih memilih bekerja dalam ketenangan dibandingkan membangun popularitas. Ia memahami bahwa pengabdian tidak selalu harus dilakukan dari atas panggung besar. Ada pengabdian yang justru menemukan maknanya ketika dilakukan secara sederhana dan konsisten selama puluhan tahun.
Bersama Ibnu Sutowo, mereka membangun keluarga besar yang kemudian melahirkan generasi-generasi yang turut mewarnai kehidupan sosial dan dunia usaha di Indonesia. Akan tetapi, warisan yang paling penting dari keluarga ini sesungguhnya bukanlah nama besar ataupun capaian material yang pernah diraih. Warisan terbesar yang mereka tinggalkan adalah teladan tentang pentingnya kemitraan dalam kehidupan rumah tangga. Sebuah kemitraan yang tidak dibangun di atas relasi superior dan inferior, melainkan hubungan saling menguatkan dalam menghadapi berbagai perubahan zaman.
Dalam kehidupan modern saat ini, rumah tangga kerap kali dipahami sebagai ruang untuk mencari kebahagiaan pribadi semata. Padahal, pernikahan juga merupakan ruang pembelajaran yang panjang tentang pengorbanan, kesabaran, dan kesediaan untuk terus bertumbuh bersama. Kisah Ibnu Sutowo dan Zaleha mengajarkan bahwa usia pernikahan yang panjang tidak lahir dari ketiadaan persoalan, melainkan dari kemampuan untuk terus memilih satu sama lain pada setiap musim kehidupan yang berbeda.
Ibnu Sutowo wafat pada 12 Januari 2001 dalam usia 86 tahun. Dua belas tahun kemudian, Zaleha menyusul sang suami pada 19 Februari 2013. Keduanya telah meninggalkan panggung kehidupan dunia, tetapi kisah mereka tetap menyisakan pelajaran yang relevan hingga hari ini. Bahwa kekuasaan dapat berpindah tangan, jabatan dapat berakhir, dan kemegahan hidup dapat berubah oleh waktu. Akan tetapi, kesetiaan yang dijaga dengan penuh tanggung jawab akan selalu menemukan tempatnya sendiri dalam sejarah.
Sejarah bangsa tidak hanya ditulis oleh mereka yang berdiri di mimbar-mimbar kekuasaan. Ia juga ditulis oleh orang-orang yang memilih tetap berjalan bersama ketika tepuk tangan telah usai. Mungkin itulah makna terdalam dari kisah Ibnu Sutowo dan Zaleha binti Sjafe'ie. Di tengah begitu banyak perubahan yang mereka lalui, keduanya mengajarkan bahwa rumah yang paling kokoh bukanlah rumah yang tidak pernah diterpa badai, melainkan rumah yang penghuninya memilih untuk tidak saling meninggalkan ketika badai itu datang. Kesetiaan, pada akhirnya, bukan sekadar tentang menemani seseorang menuju puncak kehidupan, melainkan juga tentang tetap menggenggam tangannya ketika ia sedang menuruni lereng perjalanan yang sama.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles